Asal Usul Sejarah Dusun Kalipagu Baturraden Kab. Banyumas
Tuesday, December 17, 2013
2 Comments
Related
Alkisah pada masa pemerintahan
kerajaan Majapahit sekitar abad ke-13, tersebutlah seorang pemuda bernama Raden
Joko Gamel. Dikisahkan Raden Joko Gamel diiringi beberapa punakawannya tengah
melakukan perjalanan spiritual untuk medekatkan ke diri kepada sang maha
Pencipta.
Dalam perjalan itu, akhirnya beliau sampai disuatu tempat yaitu
lereng Gunung Slamet bagian selatan. Ditempat itu pula Raden Joko Gamel bertemu
dengan Eyang Suma Wijaya dan Eyang Reksa Dewangga, dimana tempat itu dikenal
dengan nama Lemah Wangi. Kemudian beliau melakukan tapa brata dan mendapat
wangsit untuk membuka sebuah padukuhan.
Lantas Raden Joko Gamel meminta
kepada Eyang Suma Wijaya dan Eyang Reksa Dewangga untuk melaksanakan pembukaan
padukuhan. Sesuai dengan wangsit yang diterima, maka pilihan jatuh di lembah
Pandelem (Muntuk), pada hari Jum’at Manis (Sukro Maheswara) bulan
jumadilakhir, tahun ke-6 (Subuloh).
Bertepatan pula dengan perhitungan tahun
Sitra Phanu. Jatuhnya hari pembukaan lahan padukuhan tersebut, dapat dimaknai
sebagai berikut : Jum’at Manis (Sukro
mahaswara) bermakna lakuning geni gede (Matahari). Maksudnya adalah sebuah keinginan atau semangat memujudkan tujuan
hidup.
Singkat cerita maka berdirilah sebuah
padukuhan yang diberi nama Padukuhan Paguran. Berdasarkan nama tersebut, pagu berartu
penetapan dan guran berarti perjalanan hidup, sehingga nama Paguran bermakna
sebuah penetapan/ketetapan perjalanan hidup, yaitu untuk senantiasa bersemangat
dalam berfikir, bertindak, berjuang mengikuti laku jantaraning alam (sinergi
dengan alam), untuk melaksanakan perintah Tuham Yang Maha Kuasa.
Tahub demi tahun datang silih
berganti, Padukuhan Paguranpun semakin berkembang. Raden Joko Gamel yang
kemudian berjuluk Eyang Reksa jati, lantas menikah Dewi Kemuning. Dari
pernikahan itu mereka mempunyai beberapa orang putra, yaitu Eyang Buyut dan Eyang Taliwangsa (berada di Depok, Melung) Eyang
Reksapraya (Kalikesur), Syekh Abdulrrahman/Kyai Melung (Melung) dan Eyang
Surya Kencana (Baturraden).
Malang tak dapat ditolak, untung
tak bisa diraih, hal yang tak diinginkan pun terjadi. Syahdan, turunlah hujan
dan badai selama berhari hari, sehingga suatu malam terjadilah tanah longsor
dan banjir bandang dari Curug Ciangin yang melanda dan Menutup Padukuhan
Paguran.Alkisah Syekh Walahudin Salmat (Mbah kyai Kepras) dari Demak Bintaro, yang masih sepupu dengan kanjeng
KaliJaga, melakukan perjalanan dakwah untuk menyebarkan agama islam dari daerah
satu kedaerah lainnya. Dalam perjalanannya, samapailah beliau di Purbalingga.
Ketika sedang bermujanat kepada Allah SWT, beliau mendapat petunjuk untuk
segera melanjutkan perjalanan ke arah barat. Maka sampailah beliau di Padukuhan
Paguran yang ternyata masyarakatnya sedang berduka karena pemukimannya dilanda
bencana alam.
Para
tokoh Padukuhan Paguran, yaitu Eyang Reksa Jati, Eyang Suma Wijaya dan Eyang
Reksa Dewangga, bersama Mbah Kyai Kepras mengadakan musyawarah untuk mengatasi
bencara tersebut. Musyawarah tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa Padukuhan
Paguran harus dipindah ke selatan. Maka segera dilaksanakan persiapan untuk
membuat sebuah pemukiman baru.
Bukan
perkarah mudah untuk membuka pemukiman baru, karena ternyatanya disana terdapat
penguasa dari bangsa danyang, yaitu Ki Dadap dengan kekuatan putih dan Ki
Samber Nyawa dengan kekuatan hitam . mereka mempunyai kekuatan dahsyat
menguasai wilayah tersebut dan selalu bermusuhan.
Demi melaksanakan pembukaan
pemukiman, maka Mbah Kyai Kepras, Eyang Reksa Jati dan rekan-rekannya
bersinergi dengan Ki Dadap selama berhari hari, berperang melawan KI Samber
Nyawa. Akhirnya Ki Samber Nyawa menyingkir ke sebelah barat daya yaitu di Braja
Waringin (Peler), dan tetap akan mengganggu/ menggoda manusia dengan imingh
iming memberi pesugihan, kekuatan lahir yang dayat kepada siapapun yang menjadi
pengikutnya (Menyekutukaan Tuhan).
Ketika
Ki Samber Nyawa dikalahkan, maka pembukaan pemukiamn pun dimulai. Pemukiman
tersebut diberinama padukuhan KALIPAGU yang
mempunyai makna kali adalah aliran ( mengalir pada laku jantraning urip ),
dengan pedoman krenreging manah ( kata hati ), dan pagu yang berarti penetapan.
Jadi arti nama KALIPAGU adalah sebuah penetapan/ penetapan untuk senantiasa
Tuhan Yang Maha Esa.
Padukuhan Kalipagu
selanjutnya berkembang dan banyak disinggahi para pengelana, waliyullah maupun
spiritualis dari berbagai penjuru daerah. Kemudian Mbah Kyai Kepras mulai
mengajarkan agama islam kepada para penduduk maupun orang yang datang ke
padukuhan Kalipagu. Hingga saat ini Kalipagu menjadi pemukiman yang makmur,
tepatnya berada di Desa Ketenger, Kec. Baturraden, Kab. Banyumas, Jawa Tengah.
Note
:
Cerita ini dibuat berdasarkan penelusuran
sejarah dan penelusuran turun temurun oleh RT Sutarno Nursanjaya dan disusun
oleh RT Kusponodipuro T.R
hari demi hari,bulan demi bulan,tahun demi tahun,ahir nya terkuak juga sejarah grumbul kl pagu yg sy cintai...walaupun tdk semuanya terkuak paling tidak ada gambaran asal mulanya grumbul kali pagu ini,mari kita selalu jaga kenyamanan grumbul kt,mari kita selalu ingat sama tuhan yg maha esa biar masarakat grumbul kl pg,selu diberi keselamatan...amin
ReplyDeletehari demi hari,bulan demi bulan,tahun demi tahun,ahir nya terkuak juga sejarah grumbul kl pagu yg sy cintai...walaupun tdk semuanya terkuak paling tidak ada gambaran asal mulanya grumbul kali pagu ini,mari kita selalu jaga kenyamanan grumbul kt,mari kita selalu ingat sama tuhan yg maha esa biar masarakat grumbul kl pg,selu diberi keselamatan...amin
ReplyDelete